Si Udin, seorang tukang reparasi arloji atau lazimnya disebut jam tangan, sedang asyik mereparasi sebuah arloji. Saking asyiknya dia mereparasi sebuah jam tangan yang harus disiapkannya dengan cepat, "kebeletnya " yang sudah terasa sejak dari tadi ditahannya semampunya..
Sampai pada titik puncaknya, dia tidak bisa lagi menahan kebeletnya itu, serasa pistol airnya yang dilengkapi dengan dua buah pelor itu sudah mau peczah. Ditinggalkannya pekerjaanya itu lalu dia langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi untuk membuang " air keseniannya " ..... et..ma'af, maksudnya membuang air seninya alias air pipis..... alias air kenczing...alias air terjun Niagara-gara.....alias apa lagi . ? ? ? ? ?
Baru saja sampai dipintu kamar mandi, langsung dibukanya celananya. Dengan tergopoh-gopoh dikeluarkannya senjata kesayangannya itu.
"Uuuuuuuuhh......hwenaaaaak, ...swedaaaap ", desaunya sembari air pipisnya muncrat dengan kencangnya laksana air yang keluar dari slang pemadam kabakaran. Perasaanyapun jadi lega. Tiada kata yang bisa diucapkannya. Tiada bahagia yang lebih dari kebahagiaan yang dirasakannya sa'at itu.
Sebagaimana biasanya, sehabis kencing dia lalu bersuci atau mencuci " Burung Perkutut " nya alias " Pistol Air tanpa pelatuk " itu sebelum dimasukkan kedalam sarangnya kembali untuk tidur.
Nah....... , disinilah petaka mulai menimpa si Udin, dan beginilah jalan ceritanya saudara-saudara sekalian...........
Sewaktu si Udin mau mencuci Burung Perkutut yang tidak punya ekor itu, dengan tidak sengaja dia menengok ke Burung piaraannya itu. Wuiiih..., dia kaget tiga perempat mati ( maksudnya lebih sedikit dari setengah matilah begitu ), karena waktu dipandangnya dengan saksama, burungnya itu sudah berobah ukurannya dari aslinya.
Nah..disini baru gawat, saudara-saudara para pemirsa yang berbahagia...
Si Udin pun lari tunggang langgang keluar dari kamar mandi sambil memegang Burungnya yang dilihatnya sudah berobah ukurannya dari aslinya itu. Dia berteriak sekuat-kuatnya. " Wadaaaaaaaaaaauuuuu......... Tolooooooooooong....., toloooooooong......", teriaknya.
Orang-orang yang melihat dan mendengar teriakan si Udin pada terkentut semuanya.......eh, maksudnya terkejut dan terheran-heran. Kenapa si Udin berkelakuan seperti itu. Padahal kelihatannya dia biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh pada dirinya. Dia tetap saya berteriak minta tolong sambil tidak lupa memegang pistolnya yang unik dan antik itu. Orang-orang yang melihat si Udin pada mendekatinya dan menanyakan apa gerangan yang terjadi. Diulangnya lagi menjerit sekuat-kuatnya sambil menunjuk-nunjuk kearah Burung ajaibnya itu. " Wadaaau.......wadaaau........toloooong, Burung saya menjadi Pembesaaaaaaar......., bukaaaaaan, maksud saya menjadi besaaaaar, toloooooooooooong ", teriaknya lagi Kembali orang-orang pada heran sambil memandang kearah Burung si Udin yang dibilangnya jadi pembesar itu dengan pandangan terpesona. Mereka lihat kondisi Burung si Udin itu biasa-biasa dan sedang-sedang saja. Tidak ada kelainan yang mendasar, hanya saja warna Burung si Udin itu " hitam legam ", lebih muda sedikit warnanya dari Burung Gagak, yaaaa....... karena kulit si Udin memang hitam. 'Nggak mungkin dong kalau orangnya hitam, burungnya putih. Kan tidak singkron. Bisa dicurigai Burungnya itu. Dia dapat dari mana kok warnanya beda. Iya khan......iya khan ?????????? Malah konon kabarnya kencing si Udin pun juga berwarna hitam.
Melihat situasi yang sudah semakin ruwet, tampillah seorang pahlawan mendekaiti si Udin. Dicopotnya sebuah benda yang masih menempel diantara kedua kelopak mata kanan si Udin, sementara mata kirinya
terpejam. " Nah....... Coba kamu tengok burungmu itu sekarang Udin " kata pahlawan tanpa jasa itu.
Si Udin langsung melihat kebawah, keBurungnya. Eeeeeeh...... ternyata Burungnya sudah kembali normal seperti ukuran aslinya. Dengan rasa malu disimpannya Burungnya itu kembali kesarangnya dengan hati-hati dan penuh kemaluan. Tahukah anda kenapa waktu si Udin menengok Burungnya itu kelihatan besar?????
Anda-anda tidak perlu memikirkannya. Inilah jawabnya.........
Rupanya sewaktu si Udin lari terbirit-birit pergi kekamar mandi tadi, dia lupa membuka " Kaca Mata Pembesar " atau zaman dulu mungkin juga disebut dengan " kekeran " yang selalu dipakai oleh seorang tukang arloji yang diselipkan disebelah matanya sewaktu bekerja. Sehingga ketika dia melihat ke Burungnya itu, otomatis burungnya itu membesar kira-kira " tujuh setengah kali lipat " alias 750% dari ukuran biasanya.
Bayangkan......... apa dia tidak kaget mengalami " hil yang mustahal " itu. Iya Khaaaan.....???????
Huh............ada-ada saja perangai si Udin ini. Bikin orang repot saja kamu Udin....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar